"Saya cuma bercita - cita ketika saya sudah tiada nanti namaku tetap dikenang bukan sifat atau fisik, tapi karena apa yang saya lakukan". Sebisa mungkin dibalik layar tapi ada pengaruh saat berbuat.
bersama bocah - bocah ini kami belajar.
saat mulai bejar untuk menjadi mahasiswa itulah sebuah tantangan. pressing ketat, dituntut masih bisa berfikir tenang dengan sosulusi yang masuk akal.
Henda Kusuma Dosen Teknik Elektro ITS :
"Bermainlah dengan tantangan saat kamu jadi pemenang orang lain pasti akan terinspirasi"
karena beliau punya anak mereka berdua ada kelainan pada mata tapi mereka tetap disekolahkan diformal tidak ada khusus ditempatkan SLB. beliau tetap ingin yang terbaik untuk anaknya.
Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.
"Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?" tanya si Pemuda.
"Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore nengokin anak saya yang kedua" jawab ibu itu.
"Wouw..... hebat sekali putra ibu" pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak. Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.
"Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya Bu??
Bagaimana dengan kakak-adik nya??"
"Oh ya tentu.." si Ibu bercerita :
"Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang,
yang keempat kerja di Perkebunan di Lampung,
yang kelima menjadi arsitek di Jakarta,
yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto,
yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang."
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.
"terus bagaimana dengan anak pertama Ibu ??"
Sambil menghela napas panjang, Ibu itu menjawab,
"Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak,
Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar "
Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... sepertinya Ibu agak kecewa ya dengan anak pertama Ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses
di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani?"
Dengan tersenyum Ibu itu menjawab,
"Ooo... tidak.. tidak begitu Nak....
Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"


Tidak ada komentar:
Posting Komentar